Fenomena Childfree & Dilema Ibu Muda
- Rabu, 12 Agustus 2026
- Educational Insight Redaksi
- Cetak

Belakangan ini, istilah childfree atau pilihan untuk tidak memiliki anak lagi ramai jadi perbincangan hangat di media sosial. Bahkan, ada perayaan khusus bernama International Childfree Day setiap tanggal 1 Agustus untuk menghargai pilihan hidup ini. Meski asalnya dari budaya Barat yang menjunjung kebebasan mutlak, tren ini mulai masuk ke negeri kita dan memicu pro-kontra, terutama soal alasan “tidak punya naluri keibuan”.
Bukan tanpa alasan, banyak perempuan merasa ragu menjadi ibu karena berbagai tekanan. Ada yang lebih fokus mengejar karir dan materi, ada yang takut jadi orangtua yang buruk karena melihat kasus penelantaran anak di berita, hingga alasan kecemasan ekonomi di tengah biaya hidup yang makin mahal.
Data dari BPS tahun 2023 bahkan menunjukkan angka pernikahan dan kelahiran di Indonesia cenderung menurun. Banyak anak muda merasa menikah dan punya anak itu “nggak worth it” secara hitung-hitungan matematika, apalagi jika standar hidupnya mengikuti gaya hidup mewah di media sosial.
Pilihan childfree mungkin terasa seperti kebebasan individu, tapi dalam jangka panjang, ini bisa jadi masalah besar buat negara. Bayangkan jika angka kelahiran terus merosot:
- Kurangnya tenaga kerja muda yang produktif.
- Penduduk yang menua, yang artinya beban negara dan generasi muda untuk menanggung dana pensiun serta kesehatan lansia jadi makin berat.
- Ekonomi lesu karena konsumsi barang kebutuhan anak dan keluarga berkurang, yang ujung-ujungnya bisa memicu PHK massal.
Mitos atau Fakta: Maternal Instinct Itu Ada Sejak Lahir?
Banyak perempuan memilih childfree karena merasa tidak punya maternal instinct atau naluri keibuan. Namun, dalam sudut pandang Islam, naluri keibuan (Gharizah Al-Umumiyah) adalah potensi fitrah yang diberikan Allah kepada setiap perempuan.
Menariknya, naluri ini ibarat benih; dia tidak otomatis muncul begitu saja, tapi perlu dirangsang, dibentuk, dan dirawat. Jadi, kalau ada yang merasa nggak suka anak kecil saat masih single, itu hal yang wajar karena praktiknya belum ada. Naluri ini biasanya baru akan makin tajam saat seseorang benar-benar menjalani proses menjadi ibu dan berinteraksi langsung dengan anaknya.
Dalam Islam, menikah dan punya anak bukan cuma soal lifestyle, tapi bagian dari misi manusia sebagai khalifah di bumi. Lelahnya seorang ibu saat mengandung, menyusui, hingga menghadapi tantrum anak di malam hari dinilai sebagai ibadah yang luar biasa dan tabungan pahala untuk ke surga.
Jika ada trauma masa kecil (inner child) yang bikin takut punya anak, solusinya bukan menghindari tanggung jawab, melainkan disembuhkan—baik dengan mendekatkan diri kepada Allah maupun bantuan profesional. Bahkan, seringkali merawat anak sendiri bisa jadi sarana “healing” untuk menyembuhkan luka masa lalu.
Butuh “Support System” yang Kuat
Menjadi ibu memang berat, makanya Islam tidak membiarkan ibu berjuang sendirian. Harus ada dukungan penuh dari suami (tidak boleh ada budaya patriarki yang membebankan semua urusan rumah ke istri) serta dukungan dari negara melalui sistem sosial dan ekonomi yang sehat.
Kesimpulannya, naluri keibuan itu bisa dipupuk. Menjadi orangtua adalah proses belajar seumur hidup yang penuh makna jika dijalani dengan kesadaran dan keimanan. Jadi, jangan sampai ketakutan akan masa depan membuat kita lari dari amanah indah yang sudah Allah siapkan.[] Sumber

Saat ini belum ada komentar