Beranda » Educational Insight » Paradgima yang Benar tentang Mendidik Anak di Era Akhir Zaman

Paradgima yang Benar tentang Mendidik Anak di Era Akhir Zaman

Dunia hari ini tidak sekadar bergerak cepat; ia sedang berlari kencang menuju muara yang sering membuat kita, para orangtua, merasa sesak napas. Di satu sisi, kita ingin menenun sajadah iman di hati anak-anak, namun di sisi lain badai digital terus menerjang tanpa ampun. Ada kegelisahan yang teramat sangat saat melihat anak-anak kita lebih banyak menghabiskan waktu dengan significant others di layar kaca—para influencer yang kini bersaing ketat dengan kita untuk memenangkan hati dan pemikiran mereka.

Ustadz Bendri Jaisyurrahman mengingatkan bahwa akhir zaman bukanlah sebuah episode futuristik yang jauh di depan sana. Ia telah dimulai sejak wafatnya Rasulullah SAW. Kita sedang mendidik umat akhir zaman. Maka, tugas besar kita bukan sekadar menakut-nakuti mereka tentang kemunculan Dajjal, tapi menyiapkan jiwa mereka agar masuk ke dalam golongan yang “selamat”, bukan golongan yang “rusak”. Sebab, jika jiwa mereka telah rusak sebelum fitnah besar itu tiba; mereka akan dengan sukarela menjadi pengikutnya.

Observational fear learning in children

Bagaimana kita menanam benih langit di tanah bumi yang kian retak ini? Berikut adalah lima pergeseran paradigma yang sangat penting untuk kita renungkan bersama.

1. Mitos “Didiklah Anak Sesuai Zamannya”

Kita sering mendengar kutipan populer yang ditempel di banyak dinding sekolah: “Didiklah anakmu sesuai zamannya karena mereka hidup bukan di zamanmu.” Banyak yang menyandarkannya pada Ali bin Abi Thalib RA. Namun, penelusuran literatur dalam kitab Ightatul Lahfan karya Ibnul Qayyim al-Jauziyyah mengungkap bahwa kalimat ini sejatinya berasal dari Sokrates, sang filosof Yunani.

Mengapa koreksi sejarah ini penting? Karena jika kita menelan mentah-mentah slogan “sesuai zaman” tanpa filter wahyu, kita akan terjebak dalam gaya pengasuhan yang reaktif dan tanpa kompas tetap. Kita akan terus berganti kiblat; mengikuti pola “orba” di masa lalu, lalu tiba-tiba beralih mengikuti gaya hidup influencer digital hari ini hanya karena itulah yang sedang tren.

Tantangan zaman memang berubah, namun panduan mendidik haruslah tetap. Alquran dan Sunnah adalah kompas yang melintasi semua dimensi waktu. Kita mengenali tantangan zaman bukan untuk mengikuti arusnya, melainkan untuk menentukan strategi bagaimana nilai-nilai langit tetap bisa tegak berdiri di tengah gempuran tersebut.

2. Benar vs Efektif: Jebakan Hasil Instan

Banyak orangtua milenial terjebak pada pencarian cara yang “efektif” namun abai pada apa yang “benar”. Demi membuat anak berhenti bermain gadget, ada orangtua yang tega berbohong dengan mencoret wajah anaknya saat tidur, lalu mengatakan matanya akan buta jika terus bermain ponsel. Secara hasil, cara ini memang efektif—anak seketika berhenti. Namun secara syariat, ini adalah kesalahan fatal karena mengandung unsur kedustaan.

“Jangan hanya berpikir tentang hasil agar anak patuh, namun perhatikan apakah cara kita mengasuh benar di hadapan Allah. Sesuatu yang efektif namun tidak benar secara syariat akan tetap dihisab.”

Dalam Islam, proses adalah ibadah. Memukul tanpa hak atau menakut-nakuti dengan cerita bohong (seperti nasinya nangis atau diculik Kalong Wewe) mungkin membuahkan kepatuhan instan, namun ia menghancurkan keberkahan. Pilihlah cara yang benar menurut syariat, meskipun hasilnya tidak secepat sulap.

3. Imunisasi, bukan Sterilisasi

Save the Children captures the fragility of childhood in its latest work to protect a digital… | Creative MomentSaking takutnya pada kerusakan moral, sebagian orangtua memilih untuk “mensterilkan” anak: tidak ada TV, tidak ada gadget, dan anak dikurung rapat di rumah. Namun, sterilisasi total sering melahirkan Happy Pedal Syndrome. Ibarat mobil yang terbiasa melaju di jalan tol yang mulus tanpa hambatan, anak kehilangan kemampuan untuk “mengerem” diri. Saat mereka akhirnya keluar dari lingkungan steril dan bertemu dunia nyata, mereka cenderung menjadi liar karena tidak memiliki kontrol internal.

Ada sebuah kisah nyata seorang anak yang sangat disterilkan dari teknologi. Saat berada di hotel dalam sebuah acara karantina, anak ini syok melihat televisi. Hasilnya? Ia menonton TV semalam suntuk—bahkan iklan-iklannya pun ditonton dengan antusias—hingga kesiangan salat subuh. Ia tidak siap menghadapi godaan karena selama ini hanya dijauhkan, bukan dikuatkan jiwanya.

Mendidik anak akhir zaman adalah tentang imunisasi, bukan sterilisasi. Apalagi di era Gen Beta yang akan menghadapi ngerinya teknologi AI—seperti kasus rekayasa wajah (face-swap) untuk konten asusila yang mulai menyerang kehormatan pelajar muslimah. Kita tidak bisa menghapus teknologi dari muka bumi, maka kita harus membangun “imun” berupa akidah yang kokoh agar mereka mampu survive di tengah belantara digital.

4. Sekolah bukan Tempat Laundry Anak

Masih ada orangtua yang memperlakukan sekolah seperti tempat laundry: menyerahkan anak yang “kotor” dan berharap sekolah mengembalikannya dalam keadaan “bersih, rapi, dan wangi”. Padahal, kewajiban menuntut ilmu tetap berada di pundak orangtua. Sekolah hanyalah “restoran” atau warung gado-gado. Kita tidak bisa marah pada penjual sate karena mereka tidak menyediakan gado-gado; artinya, kita tidak bisa menuntut sekolah menyediakan segala hal yang menjadi kebutuhan unik anak kita.

Gunakan sekolah sebagai partner untuk mengisi kekosongan yang tidak bisa kita kerjakan sendiri. Jika Anda tidak bisa mengajarkan sains, carilah sekolah sains, namun pastikan urusan akidah dan emosi tetap dimasak di dapur rumah sendiri.

Sebagai bukti bahwa roadmap orangtua lebih utama daripada label sekolah, ada seorang anak yang dididik langsung oleh ayahnya dengan kurikulum yang personal. Meskipun tidak mengikuti jalur formal yang kaku, di usia SMP anak tersebut sudah mampu duduk di Komisi Fatwa MUI karena kedalaman ilmunya. Fokuslah pada substansi menuntut ilmu, bukan sekadar status “bersekolah”.

5. Kekuatan Koneksi: Reconnecting di Tengah Pembanding

Zaman dulu, pilihan anak sangat terbatas. Jika dimarahi orangtua, mereka hanya bisa lari ke kamar sambil mendengarkan radio karena takut pada “hantu” di luar rumah. Kini, saat orangtua sedikit saja berbuat kasar atau abai, anak tidak lagi lari ke kamar, tapi lari ke media sosial. Mereka akan membuat status “ortu toxic” dan mencari perlindungan pada orang asing di internet yang tampak lebih peduli.

Tantangan terbesar kita adalah adanya pembanding. Anak-anak bisa dengan mudah mengonfirmasi kebohongan kita atau membandingkan perilaku kita dengan orangtua lain di layar ponsel mereka. Oleh karena itu, membangun kenangan indah tentang Islam adalah harga mati. Pastikan wajah Islam yang mereka lihat dari kita adalah wajah yang penuh kasih dan kesabaran, sehingga saat dunia luar mulai terasa kejam, mereka tahu bahwa pelukan orangtua dan sajadah adalah tempat terbaik untuk “pulang”.

***

Menanam Pohon Akidah dengan Kesabaran

Mendidik anak di era akhir zaman bukanlah sebuah aktivitas sprint, tapi maraton panjang yang menuntut endurance luar biasa. Kita mungkin sering dijangkiti penyakit terburu-buru ingin melihat hasil, ingin anak segera hafal Alquran, ingin anak segera saleh, hingga kita melupakan pondasi.

660+ Oak Tree Tree Sunset Solitude Stock Photos and Royalty-Free Pictures - iStock

Sebagaimana digambarkan dalam Surah Ibrahim ayat 24, akidah adalah sebuah pohon yang baik: akarnya menghujam kuat ke bumi dan cabangnya menjulang ke langit. Tugas kita adalah menjadi petani yang sabar menyiram dan memupuk akar tersebut. Jangan sampai kita sibuk memoles dedaunan (tampilan luar) sementara akarnya rapuh terserang hama.

Sudahkah kita memberikan imunisasi iman yang cukup sebelum melepaskan mereka ke belantara akhir zaman? Ataukah kita masih terburu-buru mengejar hasil tanpa memperhatikan keberkahan prosesnya? Mari kembali ke jalan yang benar, bukan sekadar jalan yang efektif.[]

Penulis

The Administrator of QuraniKids Media

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Jangan lupa kasih komentar ya!

Berita Lainnya