Binasa di Bawah Awan Murka, Peradaban Raksasa Kaum ‘Ad Tak Berkutik
- Selasa, 22 September 2026
- Ilmu Pengetahuan
- Cetak

Setelah peristiwa banjir besar pada masa Nabi Nuh AS, keturunan manusia mulai menyebar kembali ke berbagai belahan bumi. Di kawasan selatan Semenanjung Arabia, tepatnya di wilayah Yaman yang dikelilingi jajaran pegunungan yang indah, muncullah sebuah bangsa yang sangat perkasa bernama kaum ‘Ad. Mereka dikenal memiliki perawakan tubuh yang sangat besar, kuat, dan tangguh. Tak hanya kekuatan fisik, kaum ‘Ad dikaruniai kemajuan ilmu pengetahuan, rekayasa teknik, serta teknologi bangunan yang luar biasa canggih pada zamannya. Di bawah kota dan peradaban yang dikenal sebagai Iram, mereka mampu memahat serta mendirikan pilar-pilar raksasa dan menara-menara tinggi di lokasi-lokasi yang paling sulit, mulai dari lembah, bukit, hingga puncak pegunungan batu.
Namun, kemajuan teknologi dan kemewahan yang melimpah ini justru melahirkan penyakit kesombongan. Kaum ‘Ad membangun istana-istana megah berukuran raksasa di atas puncak gunung hanya sebagai simbol gengsi, padahal tempat itu bahkan tidak mereka tinggali. Sementara di kawasan lembah, mereka mendirikan pemukiman dengan sikap seolah-olah mereka akan hidup selamanya di dunia. Mereka mengadopsi pandangan hidup yang sangat kapitalistik dan merasa bangsa merekalah yang paling superior di muka bumi. Rasa jumawa ini membuat mereka lupa diri, menyebarkan kezaliman, serta kembali menyembah patung-patung dan berhala buatan tangan mereka sendiri. Dengan penuh keangkuhan, mereka bahkan menantang dan berkata, “Siapakah yang lebih kuat kekuatannya daripada kami?”
Untuk membimbing bangsa yang tenggelam dalam kezaliman dan kesyirikan ini, Allah mengutus Nabi Hud AS, seorang nabi yang tumbuh di tengah-tengah mereka sendiri sehingga mereka sangat mengenal kejujuran dan integritas kepribadiannya. Nabi Hud AS menyeru kaumnya untuk kembali menyembah Allah Yang Maha Esa, menegakkan keadilan, serta meninggalkan berhala warisan nenek moyang mereka. Niat tulus ini justru dibalas dengan ejekan, olokan, dan penolakan keras dari para pemuka kaum ‘Ad. Penyakit merasa superior membuat para elit menolak ajaran kesetaraan yang dibawa oleh Nabi Hud AS, karena mematuhi Nabi Hud AS berarti mereka harus berdiri sejajar dengan rakyat biasa. Semakin gigih Nabi Hud AS mengingatkan nikmat Tuhan, semakin keras kepala sikap mereka, hingga mereka dengan berani menantang beliau untuk mendatangkan azab.
Melihat penolakan dan keangkuhan kaumnya yang sudah melampaui batas, Nabi Hud AS menegaskan bahwa beliau berlepas diri dari seluruh perbuatan syirik mereka dan menantang balik kaum ‘Ad untuk mengerahkan segala tipu daya terhadap dirinya. Beliau kemudian berdoa memohon pertolongan kepada Allah atas pendustaan kaumnya. Doa tersebut diijabah dengan datangnya bencana kekeringan parah yang menghentikan curahan hujan bertahun-tahun, membuat kebun-kebun, pepohonan, dan sumber air kaum ‘Ad mengering. Di tengah dahaganya kota, tiba-tiba muncul gumpalan awan hitam pekat yang sangat luas dari ufuk cakrawala. Penduduk ‘Ad bersorak gembira menyangka awan gelap tersebut adalah awan berkah yang akan mencurahkan hujan segar bagi tanah mereka.
Namun, apa yang mereka sangka rahmat ternyata adalah awal dari pembalasan yang mengerikan. Awan pekat tersebut tidak membawa air, melainkan angin topan yang sangat dahsyat (rih) yang dikirim untuk menghancurkan mereka. Angin murka itu berhembus sangat kuat hingga menerbangkan dan mencabut tubuh manusia dari tanah seolah-olah mereka adalah batang-batang pohon kurma yang tumbang hingga ke akar-akarnya. Seluruh kejayaan yang mereka banggakan—istana di puncak gunung, pilar-pilar Iram yang megah, serta tubuh raksasa mereka—hancur melayang dan remuk tak tersisa. Allah menyelamatkan Nabi Hud AS beserta orang-orang yang beriman melalui rahmat-Nya, sementara kaum ‘Ad musnah total hingga tak meninggalkan sisa bangunan atau pilar sedikit pun di atas tanah mereka, selain hamparan bukit pasir yang sunyi.[]

Saat ini belum ada komentar