5 Insight Penting Parenting Sunnah untuk Menjaga Fitrah Anak
- Kamis, 29 Oktober 2026
- Educational Insight
- Cetak

Banyak orangtua Muslim hari ini berhadapan dengan dilema emosional yang teramat dalam. Di satu sisi, timbul kekhawatiran dan ketakutan jika penerapan aturan agama yang terlalu rigid justru memicu resistensi, kelelahan mental, hingga trauma religius pada anak. Di sisi lain, setiap orangtua tentu merindukan hadirnya buah hati yang taat, saleh, dan memiliki hubungan yang indah dengan Sang Pencipta.
Niat mulia untuk menjalankan parenting sunnah sering salah dipahami sebagai ajakan mendisiplinkan anak secara instan melalui tumpukan hukum dan syariat sejak dini. Padahal, mendidik anak sesuai sunnah Nabi bukanlah tentang seberapa cepat kita mencetak anak yang patuh secara lahiriah, tapi tentang bagaimana kita menanamkan tauhid dengan rasa aman.
Hadir dalam kanal YouTube Mom’s Corner bersama Nikita Willy, Ummu Balqis—seorang penulis, wirausahawan, dan pegiat psikologi islami—membagikan perspektif yang sangat mencerahkan. Beliau menegaskan bahwa hakikat parenting sunnah adalah merawat kebaikan alami (fitrah) anak melalui kekonsistenan orangtua, kehangatan emosional, dan keteladanan nyata, bukan dengan dogmatisme yang keras.
[1] Kekonsistenan Orangtua, Bukan Hukuman
Parenting sunnah sering disempitkan maknanya sebatas menuntut anak hafal Alquran, rajin salat, atau menutup aurat sejak kecil. Padahal, fondasi utamanya adalah membangun motivasi intrinsik dalam jiwa anak agar mereka bertindak atas dasar rasa cinta. Anak perlu merasa, “Aku cinta Allah, dan aku ingin disayang oleh Allah.”
Sebelum orangtua menuntut kepatuhan anak, orangtualah yang harus mendidik diri sendiri dan membenahi perilakunya terlebih dahulu. Anak-anak tidak akan tergerak oleh aturan yang keras jika mereka belum merasakan indahnya Islam melalui kebaikan dan kekonsistenan orangtuanya di rumah dalam menerapkan value Islam.
“Salat itu bukan dipukul, salat itu bukan teriakan… Enggak bisa kita enggak membenahi koneksi kita dulu dengan anak, lantas kita langsung lompat dengan rules yang begitu keras mendisiplinkan anak.” — Ummu Balqis
[2] Koneksi sebelum Koreksi
Anak-anak pada usia dini (khususnya usia 0–4 tahun) belajar terutama melalui proses observasi (learning by observing). Mereka belum mampu mencerna konsep teologi yang abstrak, namun mereka sangat peka menyerap atmosfer emosional (ambience) yang ada di dalam rumah.
Bahkan ketika anak menempuh pendidikan di sekolah internasional yang tidak memiliki kurikulum agama, rumah tetap menjadi jangkar dan madrasah utama. Nilai-nilai keislaman yang dihadirkan orangtua melalui kehangatan harian mampu menyubstitusi dan membentengi anak dari benturan nilai di luar rumah.
Pengenalan tauhid dapat disisipkan dalam momen-momen sederhana yang membahagiakan:
- Saat Menerima Rezeki: Menyebut nama Allah dengan gembira saat menikmati makanan bersama di meja makan.
- Saat Mendengar Azan: Mengajak anak wudu bersama dengan lembut, dilanjutkan dengan salat dan pelukan hangat usai berdoa.
- Saat Anak Melakukan Kesalahan: Ketika anak menumpahkan minuman, orangtua meresponsnya sebagai ruang untuk mengajarkan kedisiplinan dengan tenang, bukan dengan bentakan.
Ikatan emosional yang aman (secure attachment) antara anak dan orangtua merupakan pintu masuk utama bagi anak untuk memahami dan merindukan kasih sayang Allah.
[3] Step-by-Step Sesuai Usia Anak
Mengajarkan ibadah seperti salat membutuhkan tahapan perkembangan yang bertahap agar tidak melukai fitrah anak. Rasulullah SAW memberikan teladan edukasi beribadah yang memiliki jeda waktu logis dan berjenjang:
- Usia 0–7 Tahun (Mencintai Suasana Ibadah): Fokus utama pada tahapan ini adalah membangun asosiasi positif terhadap ibadah. Anak merasakan kehangatan saat punggungnya diusap sang ibu waktu muraja’ah, mendapat pujian saat mencoba memakai kerudung, atau dipeluk setelah salat. Tidak ada penegakan aturan yang kaku pada rentang usia ini.
- Usia 7–10 Tahun (Pengenalan & Pembiasaan Disiplin): Orangtua mulai mengenalkan kebiasaan salat serta menjelaskan alasan mendasar (why we pray) dan tujuan hidup (goals of life). Masa jeda selama 3 tahun ini difokuskan untuk pembiasaan dan pendisiplinan tanpa penerapan hukuman fisik.
- Usia 10+ Tahun (Penerapan Konsekuensi dengan Kasih Sayang): Konsekuensi atau ketegasan baru mulai diterapkan secara bertahap setelah pemahaman tauhid dan ikatan emosional anak sudah kuat. Penting bagi orangtua untuk memisahkan antara perilaku anak dan identitasnya (“Kamu anak saleh Bunda, tapi perilaku melalaikan salat ini salah,”).
Jika konsekuensi fisik terpaksa dilakukan sebagai opsi paling akhir, Islam menetapkan aturan yang sangat ketat: tidak boleh memukul wajah, tidak boleh meninggalkan bekas/luka, dan sama sekali tidak boleh dilakukan dalam keadaan emosi atau marah.
“Ada progression di situ: menyukai suasana ibadah, pembiasaan, pendisiplinan, baru konsekuensi. Enggak bisa tiba-tiba hukum, enggak bisa tiba-tiba teriak.” — Ummu Balqis
[4] Bersaing dengan Algoritma
Fitrah adalah potensi bawaan setiap manusia untuk menerima kebaikan dan kebenaran Islam. Fitrah ini ibarat cahaya lentera yang bersih, namun bisa menjadi buram akibat kesalahan pengasuhan, pengaruh lingkungan, maupun paparan media digital yang tidak tersaring.
Di era digital, tantangan pengasuhan menjadi kian berat karena algoritma internet dapat menjangkau anak hingga ke dalam kamar tidurnya. Oleh karena itu, Ummu Balqis menekankan pentingnya menunda kepemilikan gawai pribadi pada anak usia SD karena benteng filter internal mereka belum terbentuk; gawai baru mulai diperkenalkan secara bertahap saat SMA di bawah pengawasan orangtua.
Untuk bersaing dengan algoritma, orangtua wajib membangun compass of life anak sejak dini. Orangtua harus menyediakan waktu, hadir secara utuh, dan menjadi “ensiklopedia” utama serta tempat paling aman bagi anak untuk menyampaikan setiap pertanyaan dan kebingungannya.
[5] Anak sebagai Pintu Ibadah dan Ujian
Anak adalah titipan (amanah) dari Allah, bukan hak milik atau kepemilikan pribadi orangtua. Karena statusnya adalah titipan, orangtua wajib mendidik anak sesuai dengan kehendak Sang Pemilik (Allah SWT) serta mengikis ego pribadinya.
Dalam mendidik anak yang mulai beranjak dewasa, penting bagi orangtua untuk menanamkan konsep muraqabah (kesadaran akan pengawasan Allah). Pengawasan Allah tidak boleh digambarkan seperti kamera CCTV hampa yang siap menghukum saat anak berbuat salah, melainkan sebagai bentuk pelukan kasih sayang dan kehadiran Allah yang tidak pernah meninggalkan mereka.
Kehadiran anak pada dasarnya adalah cara Allah membuka pintu-pintu pahala baru bagi orangtua melalui amanah, ujian, dan qurrota ‘ayun (penyejuk hati). Dua senjata utama yang tidak boleh ditinggalkan orang tua adalah kesabaran yang terus dilatih dan doa yang tidak pernah putus untuk merayu Allah, karena hanya Allah SWT yang berkuasa membolak-balikkan hati anak.
***
Perubahan paling mendasar dalam pengasuhan Islami era modern adalah pergeseran dari pemaksaan aturan luar (external enforcement) menuju pembentukan keterikatan batin (inner attachment) dan keteladanan nyata dari orangtua. Mendidik anak sesuai sunnah bukanlah tentang seberapa keras kita menuntut anak untuk taat, tapi seberapa gigih kita membenahi diri dan menghadirkan Islam yang ramah, hangat, serta menenangkan di dalam rumah.
Parenting adalah proses belajar yang tidak pernah selesai, di mana orangtua bertumbuh dan belajar bersama dengan perkembangan anak-anaknya. Dengan terus belajar, bersabar, dan menggantungkan harapan hanya kepada Allah, kita sedang berikhtiar menjaga lentera fitrah yang telah Allah titipkan.
Sudahkah rumah kita hari ini menjadi tempat terhangat yang membuat anak-anak rindu dan merasa aman bersama Allah?[] Hello, I’m Quki

Saat ini belum ada komentar