Oleh: Ibu Auf Afrin

Siapa yang lebih membutuhkan ilmu parenting?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut sebenarnya tidak sesulit menjawab pertanyaan semisal ‘Ayam dulu atau telur dulu?’. Karena saat ditanyakan ‘Orangtua dulu atau anak dulu?’ tentu orangtua duluan yang paling bertanggungjawab atas anaknya.

Alhamdulillaah, semakin ke sini parenting semakin dimaknai sebagai ilmu untuk orangtua. Senang rasanya banyak opini yang berkembang mengarah kepada pemahaman “pendidikan orangtua sebelum pendidikan anak”. Itu lebih manusiawi dibanding persepsi ganjil sebelumnya yang mencitrakan parenting seolah hanya sebagai ikhtiar betapa bijaksananya orangtua karena hendak mengobati perilaku negatif anak. Karena ternyata, yang mendesak untuk “diobati” justru adalah orangtua terlebih dahulu.

Saat orangtua sudah siap atau bahkan sedang belajar parenting pun, ada aspek yang kerap dilupakan, atau mungkin tidak pernah disadari. Ya, aspek mengenali “siapakah sosok anak kecil (inner child)” yang ada di dalam diri kita sebagai orangtua.

Mengapa ini menjadi sangat penting untuk diungkap, karena penilaian-penilaian masa kecil tidak hilang begitu saja. Mereka tetap menjadi sebuah kekuatan dinamis yang memengaruhi kehidupan saat dewasa, termasuk saat kita berhadapan dengan anak kita saat ini.

A Bonding

Harus diakui bahwa kita cenderung akan menciptakan kembali pola-pola masa lalu; menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman masa kecil tersebut pada saat membersamai anak kita dalam pengasuhan dan pendidikannya sekarang.

Alangkah beruntungnya jika inner child yang kita miliki adalah masa lalu yang sudah benar-benar selesai –tentu dengan pola asuh yang ideal saat itu. Namun, banyak juga dari kita yang dibesarkan oleh orangtua yang memiliki sedikit kesempatan untuk mengekpresikan perasaan-perasaan mereka sendiri. Mereka lebih fokus pada kemampuan menyediakan sandang, pangan dan papan belaka.

Dan kita adalah produk pola berulang itu.

Tentu kondisi serupa tidak kita harapkan akan berulang kepada anak-anak kita bukan? Sehingga, kita perlu “hijrah” dari inner child kita. Belajar bagaimana mengenali, mengekspresikan, melepaskan, dan mentransformasikan apa yang kita rasakan.

Jika di tulisan saya sebelumnya tentang Menata Ruang Ekspresi Buah Hati disampaikan bagaimana kita sebagai orangtua harus memfasilitasi ekspresi anak, maka hal serupa sebenarnya sangat dibutuhkan pula oleh orangtua.

Inner child, ia adalah suara-suara yang membawa perasaan yang tidak bisa diekspresikan ketika kita masih kecil (karena faktor pola asuh dan sebagainya).

Ada rasa takut, marah, malu, putus asa, dan semacamnya. Juga rasa gembira, sukacita, bahagia, cinta, dan semisalnya. Semua itu membutuhkan ruang dan penataan yang sudah harus selesai pada masanya. Sementara saat ini adalah masa yang sangat berbeda.

Mustahil kita menggugat pola asuh orangtua, mengutuk masa lalu, atau berusaha menjadi anak kecil kembali. Kita hanya perlu hijrah. Membereskan masa lalu dan legowo menyiapkan ruang baru.

Saya memfokuskan upaya hijrah inner child ini kepada tiga hal:

  • Awareness (sadar)
  • Acceptance (qana’ah)
  • Forgive (memaafkan)

In sya Allah masing-masing poin ini akan saya uraikan dalam tulisan terpisah pada kesempatan berikutnya.

4 Replies to “Hijrah Inner Child”

Jangan lupa kasih komentar ya!