Pesona Mindfulness

Esai ini merupakan uraian untuk poin Awareness dalam tulisan sebelumnya, Hijrah Inner Child. Selamat menikmati. (Redaksi)

Oleh: Ibu Auf Afrin

Menjadi ibu yang biasanya sepaket dengan titel multitaskingbeberes[1] iya, masak iya, ngasuh iya, nyuci oke, nyetrika hayu; belum lagi ditambah dengan profesi jualan, atau menjadi pegawai instansi, dll– tentu sangat menguras pikiran, waktu dan tenaga.

Tiba-tiba saya mengajak Anda juga untuk beberes masa lalu (inner child), apa nggak tambah pusing tuh? 🙂

Mindfulness | Source: Positive Psychology Program

Moms, awereness (kesadaran) menjadi langkah awal untuk memperbaiki cara pandang, lisan, juga sikap kita dalam menjalani kehidupan. Termasuk dalam dunia kita (dunia orangtua, red.), yakni dunia pengasuhan dan pendidikan anak.

Dalam tulisan sebelumnya, saya menjelaskan bahwa tidak semua orang memiliki inner child yang ideal. Akan tetapi, bukan berarti semua inner child harus diperbaiki. Hanya inner child negatif yang perlu kita bereskan. Maka untuk memulainya mari kita awali dengan awereness.

Kita sangat membutuhkan seni hidup sadar (the art of awareness). Terlebih menjadi seorang ibu dalam menghadapi keunikan setiap anak. Penting untuk kita agar senantiasa terjaga dalam kejernihan pikiran, berkualitasnya lisan, dan tetap terjaga dalam terangnya sikap. Itu semua membutuhkan suatu kemampuan yang lebih dari sekadar sadar, yakni kesadaran yang penuh, totalitas, yang sering kita sebut dengan istilah mindfulness.

Dalam konteks ini, ada dua hal yang menjadi fokus:

Pertama, masalah waktu yang dibicarakan adalah saat ini. Kita tidak bicara tentang masa lalu yang memunculkan penyesalan; tidak juga bicara tentang masa depan yang memunculkan pengandaian serta ketergesaan.

Kedua, masalah subjek dan objek yang tidak lain adalah diri sendiri, bukan orang lain. Diri kita sendiri yang dievaluasi, diri kita sendiri pula yang menyelesaikan. Tidak iri dengan keberhasilan orang lain, tidak pula menyalahkan orang lain. Kita hadir sepenuhnya melayani hari ini (untuk diri kita sendiri, red.). Memusatkan perhatian sedemikian rupa, menghayati apa yang sedang dilakukan, menikmati menjadi manusia, menikmati menjadi seorang ibu.

Seorang ibu yang dituntut harus multitasking, apakah bisa mindfulness?

Moms, mindfulness bisa dilatih dengan hal-hal yang sederhana. Bisa dengan duduk tenang, makan perlahan, dan sebagainya. Prioritaskan kegiatan sedikit, tapi dalam. Merelakan atas apa yang tak bisa kita kerjakan. Terlebih bagi seorang muslim, konsep mindfulness sungguh telah lebih dahulu menjadi bagian dari pemahaman Islam. Psikolog menemukan meditasi sebagai cara terbaik yang bisa disisipkan dalam kegiatan sehari-hari untuk mencapai mindfulness, sementara kita justru sudah tidak asing dengan konsep ikhlas, khusyuk, muraqabbah, tazkiyatun nafs; semua demi dzikrullah semata.

Jika meditasi hanya melibatkan diri sendiri, maka dalam dzikrullah, diri sendiri menjadi begitu berharga dengan penilaian Pencipta.

Hanya yang menjadi permasalahan, seringkali kita dipertemukan dengan tahajud yang kering, me time yang hilang makna. Saat tahajud, benarkah tahajud kala itu adalah tahajud yang benar-benar milik kita? Saat me time, apakah me time tersebut benar-benar milik kita?

Jika belum terasa sepenuhnya milik kita, berarti kita belum benar-benar tenang, belum benar-benar sadar, belum benar-benar menghadirkan diri sepenuhnya, belum mindfulness atas tahajud dan me time tersebut.

Moms, begitu pun dengan inner child negatif. Mindfulness menjadi langkah awal untuk “menjahit” luka masa lalu. Sebelum kita acceptance (qanaah; menerima) dan forgive (memaafkan) luka masa lalu, menyadarinya terlebih dahulu merupakan langkah yang tepat. Karena kelak, mindfulness akan menjadi wasit yang adil dalam mengawasi, mengamati, menerima dan mengambil keputusan.

Selamat mengalami mindfulness sejati, yakni menjadi orang bijak yang cerdas dan rendah hati!

Sampai jumpa di uraian berikutnya tentang Acceptance (qanaah; menerima) ya! 😉

[1] Sunda: membereskan; melakukan aktivitas beres-beres.

Author :
The Administrator of QuraniKids Media

2 thoughts on “Pesona Mindfulness

Jangan lupa kasih komentar ya!