Berikut adalah esai pensyarahan dari poin Acceptance yang disitir dalam tulisan utama, Hjrah Inner Child. Selamat membaca! (Redaksi)

Oleh: Ibu Auf Afrin

Alhamdulillaah, saya masih diberi kesempatan melanjutkan uraian untuk poin kedua dari tulisan sebelumnya. Pada poin ini akan lebih banyak melakukan kontemplasi dengan diri sendiri.

Saat menyelami konsepnya, saya malah betah memeriksa setiap ruang diri ini. Sekadar untuk memastikan,

apa kabar tenang?

Apa kabar rela?

Apa kabar sabar?

Khawatir masih ada sedikit noda risau, keluh kesah dan ambisi yang tak terkendali.

Acceptance | Source: Psych Central

Setelah di poin pertama tentang Awareness (mindfulness): mengakui, menyadari dan menyetujui bahwa ada permasalahan yang kita hadapi dalam beberapa aspek penting kehidupan, kita perlu segera mengiringi langkah selanjutnya dengan “penerimaan” agar kesadaran yang telah kita jahit menjelma menjadi suatu kepribadian yang unik.

Acceptance (penerimaan/keberterimaan) berarti kita mampu menghargai setiap pengalaman yang kita miliki, entah itu baik ataupun buruk agar kita mampu mengambil pelajaran dari pengalaman-pengalaman tersebut. Termasuk inner child buruk yang akan kita bereskan, merupakan objek yang harus diterima sepenuhnya. Kekecewaan, kekurangan, ketidaksempurnaan, semua harus disadari kemudian diterima sepenuhnya untuk mengubah diri menjadi lebih baik. Pahami bahwa ujian harus diterima, bukan dihindari ataupun ditolak.

Bagi seorang muslim, menerima kekurangan atau ketidaksempurnaan bukanlah hal yang biasa-biasa saja. Bentuk penerimaan yang luar biasa itu bernama qanaah. Derajat qanaah (merasa cukup dengan apa yang sudah Allah berikan) merupakan konsep penerimaan istimewa karena hal tersebut mencerminkan seberapa cerdas seseorang dalam memahami konsep qada qadar-Nya.

Mengapa demikian?

Karena menerima sepenuhnya, itu berarti menerima bahwa ada hal yang bisa kita ubah, dan menerima pula bahwa ada hal yang tidak bisa kita ubah.

Ada beberapa kunci self-acceptance yang penting untuk kita coba, di antaranya:

  • Kenali aspek dalam kehidupan yang bisa diubah;
  • Kenali aspek dalam kehidupan yang harus diubah;
  • Temukan cara untuk mengubahnya;
  • Sampai perubahan yang dimaksud terjadi, terimalah aspek itu apa adanya;
  • Jangan biarkan penerimaan melemahkan usaha kita untuk mengubah aspek itu;
  • Kenali bahwa ketika perubahan itu terjadi, kita mungkin menginginkan perubahan yang lebih lagi (belum puas); dan
  • Mengerti bahwa meskipun telah melakukan berbagai cara, perubahan mungkin saja tidak terjadi.

Silakan detaili setiap aspeknya, karena masing-masing dari kita memiliki ketidaksempurnaan yang mungkin berbeda satu sama lain untuk diupayakan perbaikannya.

Dalam aspek pengasuhan dan pendidikan anak, keberterimaan orangtua terhadap berbagai ketidaksempurnaannya (orangtua dan anak) merupakan hal penting yang harus segera dilakukan. Maksimalkan ikhtiar pada aspek yang halal (bisa dan harus) untuk diubah, sembari memantapkan iman akan qada qadar pada aspek di mana hanya Allah-lah yang berkehendak, sementara kita sebagai manusia tidak memiliki pengetahuan dan kemampuan sedikit pun tentangnya.

Selamat menjadi orangtua yang qanaah dalam pengasuhan dan pendidikan anak ya 😉

Sampai jumpa pada pembahasan poin terakhir pada tulisan selanjutnya tentang Forgiveness (memaafkan), in sya Allah.

Jangan lupa kasih komentar ya!