Oleh: Ibu Auf Afrin

Minta maaf dan memaafkan memang tidak mampu mengubah masa lalu, tapi ia bisa menentukan masa depan.

Begitulah. Saya percaya bahwa setiap ilmu pengetahuan yang telah dimaknai kebenarannya sebagai keyakinan, maka Allah akan hadirkan pengalaman sebagai pengujinya untuk mengamalkan ilmu pengetahuan tersebut.

Forgiveness | Source: Google Image

Usai merampungkan tulisan Hijrah Inner Child, reda dari uraian poin terakhir tentang Forgiveness as The Gift, Allah pertemukan saya dengan seorang ibu pekan ini. Berawal dari niatannya belajar ilmu tajwid, ternyata beliau membawa pertanyaan yang diakui cukup mengusik kesehariannya, yakni apakah niatnya memasukkan anaknya ke pesantren adalah pilihan yang tepat?

Memangnya kenapa?

Bukankah itu pilihan yang bagus?

Kenapa si ibu terusik kesehariannya; seperti tidak bahagia?

Ternyata, setiap kali anaknya ingin menjajal hobinya nonton sepak bola, ujaran “Sama mamah dipesantrenin!” spontan diucapkan oleh si ibu. Ujaran yang sama juga berlaku ketika anaknya ingin memancing atau sekadar bermain.

Kalimat “Sama mamah dipasantrenin!” sudah menjelma menjadi larangan atau lebih tepatnya bentuk ancaman agar anak menurut.

Bisa dipahami kalau si ibu memiliki harapan yang besar dan cita-cita yang tinggi terhadap anaknya. Dia ingin anaknya tumbuh menjadi pribadi yang saleh.

Tapi apa yang terjadi, kenyataannya si ibu sendiri tidak pernah merasa nyaman; tidak tenang dengan ujaran yang dia anggap benar. Justru si ibu merasa bersalah dengan pola pengasuhan demikian. Terlebih anaknya jadi bersikap seperti orang yang tertekan; tidak ceria sebagaimana anak-anak seusianya.

Mengalirlah pertanyaan dari beliau, “Apakah saya salah?”

Saat itu saya coba memberi saran supaya beliau meminta maaf kepada anaknya.

Di mana letak kesalahannya?

Kesalahannya ada pada bahwa ibu memaksakan kehendak tanpa disampaikan secara komunikatif mengapa anak harus begini dan begitu. Kesalahannya ada pada ibu yang menciptakan ruang tertekan bagi anak.

Selama ibu paham standar halal haram dan baik buruk perbuatan, dunia anak seharusnya tidak sekaku pengajian konvensional. Islam hadir dalam cerianya masa bermain mereka, membersamai minat dan bakat mereka.

Melalui pesan di WhatsApp si ibu menyampaikan,

“Teteh, hatur nuhun. Saya sudah minta maaf ke Y***. Alhamdulillaah anak saya betah duduk di samping saya nemenin saya tilawah surah al-Kahfi tadi malam sampai beres. Besoknya berangkat sekolah juga ceria banget.”

Saya bahagia mendapatkan pesan itu. Namun saya yakin, ibu itu lebih bahagia.

Bagi seorang ibu, minta maaf seperti hadiah karena mampu mengembalikan senyuman ceria buah hatinya.

Yakinlah, bagi anak, pemaafan (minta maaf dan memaafkan) dari orangtua merupakan hadiah yang mampu “menghipnotis”; menuntun kebahagiaan menjadi kepatuhan.

Wallaahu’alam bish-shawab.

Jangan lupa kasih komentar ya!