Tamara yang Mulanya Enggan Saum

Anak-anak kita adalah ciptaan Allah SWT. Dia bekali mereka dengan beragam potensi untuk menjalani kehidupan. Salah satunya adalah Dia bekali anak-anak kita dengan potensi untuk menemukan kebenaran. Bekal inilah yang menjadikan setiap anak memiliki dasar-dasar kesalehan. Setiap anak pada dasarnya memiliki kecenderungan pada ketaatan. Bekal inilah yang harus selalu ditingkatkan, dilatih sesuai dengan perkembangan naluri, akal dan fisik mereka. Mengaji di malam hari, bangun di akhir sepertiga malam, sahur dan saum adalah aktivitas sederhana tapi berat untuk melaksanakannya. Perlu penanaman persepsi yang terus-menerus hingga mereka merasa ringan dalam mengamalkannya. Tamara, salah seorang siswi kami mengeluh tidak mau saum. Dia enggan sahur. Dia mengeluh khawatir tergoda bila ada yang makan di… Read More

Continue Reading

Tips Merawat Kesehatan Psikologis Orangtua

Oleh: Slamet Fatrika Santoso, S.Psi Merawat kesehatan psikologis dimulakan dengan kesadaran. Bagi umat Islam, kesadaran yang dimaksud lahir dari keimanan yang hakiki. Di dalam Alquran, Allah telah menawarkan cara memperoleh ketenangan hati yang paling efektif:  “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (TQS Ar-Ra’du [13]: 28) Kemudian dengan kesadaran tersebut, muncul motivasi dalam diri untuk melakukan tindakan merawat dengan melihat titik kelemahan dan kelebihan diri yang berdampak pada terganggunya kesehatan psikologis. Diri yang sadar akan kesehatan psikologis akan membangun relasi yang baik dengan orang lain termasuk dalam menjaga hubungan asuhan orangtua terhadap anak. Selain itu juga meningkatkan… Read More

Continue Reading

Forgiveness As The Gift

Ini adalah esai terakhir dari serial pensyarahan poin-poin penting dalam Hijrah Inner Child. Sebuah uraian dari poin Forgiveness. Selamat membaca! (Redaksi) Oleh: Ibu Auf Afrin Tulisan kali ini merupakan alur terakhir dari upaya membereskan inner child. Berdamai dengan masa lalu, meski tidak mudah, namun sangat mungkin untuk ditempuh. Memang akan sulit untuk sampai pada tahap forgiveness jika alur awereness dan acceptance tidak ditempuh. Tertatih-tatihlah kita untuk bisa memaafkan jika tidak didahului kesadaran dan penerimaan yang utuh. Mari kita hadirkan lagi alur sebelumnya agar proses pemaafan menjadi hal yang ringan untuk dilakukan. Awareness mengajak kita menjadi pribadi yang memainkan dua hal, yakni fokus dan nalar. Kita sepakat bahwa inner child yang… Read More

Continue Reading