Bicara Cinta
Bicara cinta tidak terbatas pada pujangga. Juga bukan hak milik Ti Pat Kay (Gen Z ada yang kenal gak?). Ulama juga tidak jarang bicara soal cinta. Seperti Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bari mendefinisikan, cinta adalah almaylu maa yuwafiquhul muhib (kecenderungan kepada sesuatu yang disukai karena cocok), Iradatu maa ya’taqiduhu alkhoir (keinginan terhadap sesuatu yang diyakini baik untuknya).

Definisi tersebut bisa digabungkan menjadi kecenderungan dan keinginan hati kepada sesuatu karena ia meyakini baik untuk dirinya dan merasa cocok dengannya.
Bedanya ulama dengan para pujangga tentu mengarahkan sesuatu tersebut pada iman. Dalam Bab Halawatil Iman (Manisnya Iman) hadits ke-16 kitab Shohih Bukhori menyebutkan bahwa tiga hal yang pasti akan seseorang dapati manisnya iman adalah mencintai Allah Swt dan Rasulullah saw di atas yang lainnya, mencintai manusia karena Allah Swt., dan membenci kekufuran sebagaimana ia membenci dimasukkan ke neraka. Hadits ini merupakan hadits yang diriwayatkan oleh para ulama Bashrah.
Cinta yang dilandaskan iman akan menghadirkan mindfulness dalam setiap amal yang ia lakukan. Ia sadari benar, apapun yang dilakukan merupakan perintah dari Dzat yang ingin ia raih Cinta-Nya. Ia akan merasakan nikmat ketika bisa menyekolahkan anak di sekolah terbaik, apapun resikonya. Ia akan merasakan nikmat ketika mengajar anak-anak, bagaimanapun dinamikanya. Ia akan merasakan nikmat ketika telah selesai memasak untuk suami dan anaknya.
Menunaikan kewajiban memang menghadirkan kelegaan. Jalan cinta memang akan berdampingan dengan jalan derita. Akan tetapi hal demikian wajar. Sebab, para ulama memberikan tanda apa itu halawatul iman, yakni:
- Istildzaadzu at-tho’at, merasakan kenikmatan segala ketaatan
- Tahammulu almasyaq li ajlih, siap menanggung kesulitan deminya
- Al-iytsar min addunya, mendahulukan ketaatan daripada dunia
Dengan melandaskan kecintaan pada iman, akan membuatnya juga rida terhadap qadha. Apapun persoalan hidup manusia pasti cocok di bawah takdir-Nya. Dengan memegang keyakinan ini, maka ia akan terhindar dari depresi berlebihan. Obat mujarab dari segala mental illness memang dengan me-refresh dan mempertebal iman kembali.
Milda Nurjanah
Jum’at, 02 Februari 2024
(Rangkuman dan Faedah Kajian Kitab Hadits Shohih Bukhori Ma’had Khadimus Sunnah)
0 Comments