Bahaya “Silent Treatment” terhadap Anak
Bukan Emas: Mengapa ‘Silent Treatment’ pada Anak Bisa Jadi Racun yang Menyakitkan
Dalam pengasuhan, setiap interaksi adalah kesempatan untuk membangun jembatan. Tujuan utama komunikasi, terutama dengan buah hati kita, adalah untuk menciptakan koneksi dan keterhubungan. Namun, ada satu taktik yang sering kali keliru dianggap sebagai solusi disiplin, padahal sesungguhnya dapat merusak jembatan itu: silent treatment atau mendiamkan anak. Sikap ini, meski tanpa kata-kata kasar atau bentakan, membawa pesan yang jauh lebih menyakitkan daripada yang kita sadari.
Untuk memahami secara mendalam mengapa ‘mendiamkan anak’ bisa menjadi racun, kita harus terlebih dahulu menyelami kebutuhan paling mendasar dari fitrah kita sebagai manusia, yaitu kebutuhan untuk terhubung dan berinteraksi.
Manusia Butuh Ditemani: Pelajaran dari Surga
Secara fitrah, manusia adalah makhluk sosial. Bahkan asal-usul kata “insan” dalam bahasa Arab, menurut ulama ahli bahasa Ibnu Faris, berasal dari kata “uns,” yang berarti keakraban atau interaksi sosial. Lawan katanya adalah perasaan diasingkan atau dijauhi. Ini menegaskan bahwa inti dari kemanusiaan kita adalah kebutuhan untuk ditemani dan diakrabi.
Pelajaran paling awal tentang ini datang dari surga. Bayangkan Nabi Adam ‘alaihissalam, berada di tempat yang segala kebutuhannya terpenuhi, namun hatinya tetap merasa gelisah. Mengapa? Karena ia sendirian, tanpa teman untuk berbagi cerita dan berinteraksi. Kegelisahan batin ini baru terobati ketika Allah SWT menciptakan Hawa sebagai pendampingnya. Kehadiran Hawa tidak hanya memenuhi kebutuhan biologis, tetapi yang lebih penting, ia memenuhi kebutuhan jiwa Adam akan sebuah koneksi.
Bayangkan, jika Anda diberi tiket gratis masuk ke Dunia Fantasi (Dufan) seorang diri. Tidak ada antrean, semua wahana bisa dinaiki sepuasnya, hanya dengan menekan satu tombol. Awalnya mungkin terdengar menyenangkan, tetapi saat Anda berteriak di Halilintar sendirian, tanpa ada teman untuk berbagi tawa atau ketakutan, kenikmatan itu akan terasa hampa. Sebab, bahkan dengan fasilitas tak terbatas, ketiadaan interaksi membuat segalanya kehilangan makna.
Dari sini kita belajar bahwa mengasingkan diri atau menjauhi interaksi sosial adalah sebuah penyimpangan dari fitrah. Itulah mengapa salah satu gejala utama dari masalah kesehatan mental seperti depresi adalah ketika seseorang mulai menarik diri dan enggan bertemu orang lain. Ketika fitrah mendasar untuk terhubung ini diabaikan oleh orangtua melalui silent treatment, dampaknya bisa sangat menyakitkan bagi seorang anak.
‘Diam’ yang Bukan Emas: Pesan Tersembunyi di Balik Hening
Ada sebuah kaidah fundamental dalam ilmu komunikasi yang berbunyi: “We cannot not communicate (Kita tidak bisa tidak berkomunikasi).“ Artinya, bahkan ketika kita memilih untuk diam, kita tetap mengirimkan sebuah pesan. Saat orangtua mendiamkan anak sebagai hukuman, anak tidak menerima keheningan yang kosong. Sebaliknya, ia menerima rentetan pesan negatif yang berputar di kepalanya:
- “Mama marah padaku.”
- “Aku melakukan kesalahan yang sangat besar.”
- “Kehadiranku tidak diinginkan.”
- “Kamu enggak berarti dalam hidup Mama.”
Sikap diam untuk menghukum ini sangat berbeda dengan anjuran diam dalam ajaran Islam. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:
“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata-kata yang baik atau diam.”
Perhatikan urutannya. Pilihan pertama dan utama adalah berkata yang baik. Diam adalah pilihan terakhir, sebuah “katup pengaman” yang kita gunakan ketika kita tidak mampu lagi merangkai kata-kata yang baik. Misalnya bagi para istri; saat emosi sedang meledak-ledak di akhir bulan, PMS pula, suami di luar kota, Wi-Fi mati, dan baru saja melihat algoritma tentang perselingkuhan di media sosial. Di saat seperti itu, diam menjadi cara untuk mencegah lisan menyakiti. Sebaliknya, silent treatment menjadikan diam sebagai senjata utama untuk menghukum. Sikap diam yang membawa pesan penolakan ini, pada akhirnya akan meninggalkan luka yang dalam pada jiwa anak.
Dua Sisi Luka Pengasuhan: Kasar vs. Cuek
Luka pengasuhan tidak hanya datang dari bentakan atau pukulan. Ada sisi lain yang sama merusaknya, yaitu sikap abai dan tidak peduli. Al-Qur’an dalam Surat Ali Imran ayat 159 menjelaskan dua sifat yang akan membuat anak (atau siapa pun) lari menjauh dari kita.
| Sifat Merusak | Penjelasan |
| Kasar (Fazhzhan) | Komunikasi yang menyakiti secara aktif, ditandai oleh: 1. Suara meninggi (teriakan). 2. Kata-kata menusuk (melabeli anak). 3. Ekspresi wajah menyeramkan (melotot). 4. Menyakiti fisik. |
| Cuek (Ghalizhal Qalbi) | Secara harfiah berarti “hati yang keras.” Sifat ini terwujud dalam sikap: • Tidak peka dan tidak punya empati. • Mementingkan ego, tidak peduli perasaan orang lain (bodo amat).Inilah inti dari silent treatment. |
Allah SWT menegaskan bahwa jika kita memiliki kedua sifat ini—baik kasar maupun cuek—maka dampaknya adalah orang lain akan lari dan menjauh dari sekeliling kita.
Benar kata pepatah, “Kalau kacang itu gurih, dikacangin itu perih.” Bayangkan Anda datang ke sebuah pesta, tetapi tidak ada satu pun orang yang menyapa. Anda dianggap tidak ada. Perasaan itu sangat tidak nyaman, bukan? Anda pasti akan segera pulang. Kini, bayangkan perasaan itu dialami oleh seorang anak di rumahnya sendiri, tempat yang seharusnya menjadi surga teraman baginya. Betapa menyakitkannya diabaikan, bahkan Allah SWT menggambarkan pengabaian sebagai salah satu hukuman terberat bagi para pendosa di hari kiamat.
Pelajaran dari Akhirat: Saat Pengabaian Menjadi Hukuman Terberat
Untuk menunjukkan betapa seriusnya dampak dari sikap diabaikan, kita bisa melihat bagaimana Allah SWT memperlakukan para pelaku dosa besar di hari kiamat. Salah satu bentuk hukuman terberat bukanlah siksaan fisik semata, melainkan diabaikan atau “dicuekin” oleh Sang Pencipta.
Dalam sebuah hadits, disebutkan ada tiga golongan manusia yang tidak akan “dilihat” atau akan diabaikan oleh Allah di hari kiamat:
- Orang yang durhaka kepada orangtua.
- Perempuan yang menyerupai laki-laki atau sebaliknya (kaum transgender).
- Dayuts (lelaki yang tidak punya rasa cemburu). Maksudnya, lelaki yang tidak peduli dan tidak membela kehormatan istrinya saat diganggu orang lain.
Di saat semua makhluk mengharap rahmat dan perhatian Allah, tiga golongan ini akan dibiarkan begitu saja. Ini adalah sebuah hukuman batin yang luar biasa pedih. Ini membawa kita pada sebuah refleksi yang mendalam: Jika diabaikan oleh Sang Pencipta adalah hukuman yang begitu berat, mengapa kita sebagai orangtua tega memberikan ‘hukuman’ serupa kepada anak kita?
Maka, alih-alih membangun dinding keheningan, orangtua seharusnya hadir untuk membangun jembatan koneksi, terutama di saat-saat paling krusial bagi anak.
Maka, Jadilah Superhero di Momen Kritis Anak
Menjadi orangtua yang cuek sama toksiknya dengan menjadi orangtua yang kasar. Keduanya menciptakan luka dan jarak. Alih-alih mendiamkan anak saat mereka melakukan kesalahan atau mengecewakan kita, pilihlah untuk hadir. Kehadiran orangtua adalah obat bagi jiwa anak, terutama di lima momen krusial berikut ini:
- Saat Anak Sedih: Ketika anak menangis, siapa yang hadir untuk menyeka air matanya akan menjadi pahlawan di hatinya. Ada kisah nyata seorang ibu tunggal yang putrinya (23 tahun) bersikeras menikah dengan seorang pengedar narkoba. Sang ibu kebingungan, hingga seorang ustadz bertanya, “Kapan terakhir kali Ibu menyeka air mata anak Ibu?” Ibu itu menangis dan mengaku, “Justru sayalah yang membuatnya menangis.” Inilah kuncinya: sang ibu adalah penyebab tangisnya, sementara pemuda itu yang hadir untuk menyeka air matanya. Bagi sang anak, dialah pahlawannya.
- Saat Anak Sakit: Momen sakit adalah saat anak merasa paling rentan. Bagi ibu bekerja, usahakan ambil cuti jika anak dirawat. Jika tidak bisa, izin datang terlambat sudah cukup mengirim pesan bahwa ia adalah prioritas. Bagi ayah yang di luar kota, sering-seringlah menelepon untuk menunjukkan kepedulian. Kehadiran, belaian, dan perhatian di saat ini adalah obat yang paling mujarab.
- Saat Anak Unjuk Prestasi: Ketika anak berhasil meraih juara atau mendapatkan penghargaan, kehadiran orangtua di momen itu jauh lebih berarti daripada piala yang ia genggam. Itu adalah pesan bahwa pencapaiannya dilihat, diakui, dan dihargai oleh orang yang paling penting dalam hidupnya.
- Saat Anak Unjuk Aksi: Saat anak tampil membaca puisi, bertanding olahraga, atau pentas seni, melihat wajah ayah dan ibunya di antara penonton memberikan kekuatan luar biasa. Teladan terbaik datang dari Rasulullah SAW. Beliau pernah melewati kaum Bani Aslam yang sedang berlomba memanah. Alih-alih hanya lewat, beliau berhenti, duduk, dan menyemangati mereka dengan berkata, “Teruslah memanah, wahai keturunan Ismail! Karena sesungguhnya kakek moyang kalian adalah seorang pemanah.”
- Saat Anak Melakukan Kesalahan Fatal: Ini adalah momen tersulit, namun terpenting. Kisah Pendeta Yerry, putra dari legenda sepak bola Ronny Pattinasarany, adalah buktinya. Ia membenci ayahnya yang selalu absen. Suatu hari, Yerry tertangkap melakukan kesalahan dan digebuki massa. Di tengah keputusasaan, ayahnya datang, menerobos kerumunan, dan memeluknya erat sambil berkata, “Bagaimanapun kamu anak Papa, kita akan lewati ini sama-sama.” Satu tindakan kehadiran itu, kata Yerry, menghapus luka pengabaian bertahun-tahun.
Dengan memilih untuk hadir dan terhubung, alih-alih diam dan menjauh, orangtua tidak hanya menghindari terciptanya luka pengasuhan. Lebih dari itu, kita secara aktif membangun fondasi cinta, penerimaan, dan rasa berharga yang akan menjadi bekal terkuat bagi anak untuk mengarungi kehidupannya.[] Source
0 Comments