Panduan Pedagogis: 12 Metode Mendidik ala Nabi Muhammad ﷺ
Nilai Anak dan Keteladanan Nabi dalam Pendidikan
Dalam kerangka Tarbiyah Nabawiyah (pendidikan profetik), anak dipandang bukan sekadar tanggungan, melainkan sebuah anugerah agung dari Allah SWT, nikmat besar, serta investasi kebaikan yang paling utama bagi kedua orangtuanya. Kehadiran mereka membuka kesempatan bagi orangtua untuk meraih pahala yang terus mengalir bahkan setelah meninggalkan dunia. Posisi strategis anak dalam keluarga dan akhirat ini ditegaskan secara lugas dalam ajaran Nabi Muhammad ﷺ.
Perspektif Islam menempatkan anak sebagai bagian tak terpisahkan dari ikhtiar orangtua di dunia. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ, “Sesungguhnya anak-anak kalian termasuk usaha kalian.” Ini berarti bahwa mendidik anak yang saleh adalah amal terbaik yang dapat dipersembahkan seorang hamba. Buah dari usaha ini akan terus dipetik, bahkan setelah wafat, melalui doa dari anak yang saleh. Lebih dari itu, doa permohonan ampun dari seorang anak memiliki kekuatan untuk mengangkat derajat orangtuanya di Surga. Terlebih lagi, Islam mengangkat martabat pengasuhan anak perempuan ke tingkat yang mulia. Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang mengasuh dua anak perempuan hingga keduanya dewasa (baligh), (maka) aku dan ia akan datang (bersama) pada Hari Kiamat (menuju ke Surga).” Saat itu beliau merapatkan jari-jemarinya, menandakan kedekatan pada waktunya nanti.
Tanggung jawab fundamental orangtua adalah melindungi keluarga dari api neraka. Allah SWT berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا
”Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api Neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)
Menafsirkan ayat ini, Sahabat ‘Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه menjelaskan bahwa cara untuk melindungi keluarga adalah dengan, “Didiklah mereka dan ajarilah mereka (ilmu agama).” Ini menegaskan bahwa pendidikan agama adalah perisai utama bagi seorang anak.
Untuk menjalankan amanah pendidikan ini secara efektif, kita harus merujuk pada teladan pendidik terbaik sepanjang masa; Nabi Muhammad ﷺ. Kredibilitas dan keunggulan metode beliau diakui secara langsung oleh para sahabatnya. Muawiyah bin Al-Hakam رضي الله عنه memberikan kesaksian:
”Demi bapak dan ibuku, aku tidak mendapatkan seorang pengajar sebelum atau setelahnya yang lebih baik daripada Nabi ﷺ.”
Panduan ini akan mengurai kerangka Tarbiyah Nabawiyah yang utuh, sebuah sistem yang menyentuh setiap aspek fitrah (disposisi alami) anak—spiritual, emosional, intelektual, dan moral—melalui dua belas metode praktis yang diterapkan oleh Rasulullah ﷺ.
Dua Belas Metode Pendidikan Profetik
Metode 1: Menanamkan Aqidah dan Tauhid Sejak Dini
Dalam kerangka Tarbiyah Nabawiyah, tidak ada fondasi yang lebih asasi daripada penanaman tauhid yang murni. Ini adalah titik tolak dari mana semua pendidikan dan pembentukan karakter bermula. Sebelum mengajarkan adab, keterampilan, atau ilmu pengetahuan lainnya, seorang anak harus terlebih dahulu mengenal Rabb-nya dan membangun hubungan langsung dengan-Nya.
Prinsip inti dari metode ini adalah menanamkan ketergantungan primer dan mutlak kepada Allah SWT untuk segala kebutuhan dan pertolongan. Hal ini tercermin dalam nasihat agung Rasulullah ﷺ kepada sepupunya yang masih belia, ‘Abdullah bin ‘Abbas رضي الله عنهما:
“Wahai anak, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat; ‘Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati Dia di hadapanmu. Jika engkau meminta, maka mintalah kepada Allah. Jika engkau minta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah.’”
Aplikasi Kontemporer
Nasihat ini dapat diterjemahkan menjadi tindakan praktis bagi orangtua modern. Ajarkan anak untuk menjadikan doa sebagai respons pertama terhadap setiap situasi. Ketika mainannya hilang, ajak ia berdoa, “Ya Allah, bantu aku menemukan mainanku.” Saat akan menghadapi ujian, bimbing ia untuk memohon, “Ya Allah, mudahkanlah ujianku.” Dengan membiasakan anak untuk “meminta kepada Allah” terlebih dahulu, orangtua sedang membangun pilar tauhid yang kuat dalam jiwanya, menumbuhkan resiliensi, dan mengajarkannya bahwa solusi hakiki atas setiap masalah datang hanya dari Allah.
Metode 2: Membiasakan Adab Islami dalam Keseharian
Membiasakan anak dengan adab-adab Islami memiliki nilai strategis yang luar biasa. Praktik ini mengubah tindakan rutin dan profan (tidak ada kaitannya dengan agama) menjadi bernilai ibadah, sekaligus membentuk karakter dan kehalusan budi pekerti anak secara bertahap namun konsisten. Prinsipnya adalah mengintegrasikan etiket islami ke dalam aktivitas sehari-hari hingga menjadi kebiasaan alami.
Contoh paripurna dari metode ini terekam dalam kesaksian ‘Umar bin Abi Salamah رضي الله عنه, yang saat itu masih anak-anak dan berada dalam asuhan Nabi ﷺ: “Aku dahulu adalah seorang anak yang berada dalam pemeliharaan Rasulullah ﷺ, dan tanganku terburu-buru masuk ke dalam nampan. Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku, ‘Wahai anak, bacalah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah yang dekat denganmu.’“
Aplikasi Kontemporer
Analisis mendalam terhadap nasihat ini mengungkap sebuah masterclass dalam habituasi yang efektif. Rasulullah ﷺ tidak sekadar menegur, tetapi memberikan tiga instruksi yang presisi dan dapat ditindaklanjuti:
- Sebut Nama Allah (Bismillah): Menetapkan niat dan adab spiritual.
- Gunakan Tangan Kananmu: Menentukan alat/prosedur yang benar.
- Makanlah yang Dekat Denganmu: Menetapkan batasan (fisik).
Orangtua dapat menerapkan model “tiga bagian kejelasan” ini untuk mengajarkan adab lain (misalnya, masuk kamar, bertamu, atau berbicara) dengan konsistensi, kelembutan, dan keteladanan langsung, sehingga adab Islami menjadi bagian tak terpisahkan dari kepribadian anak.
Metode 3: Mendidik Melalui Candaan dan Empati
Sementara pembiasaan adab lahiriah membentuk perilaku, Tarbiyah Nabawiyah juga memberikan perhatian mendalam pada pembentukan lanskap emosional internal anak. Pendidikan yang efektif tidak hanya menyentuh akal, tetapi juga hati. Metode ini adalah intervensi edukatif yang bertujuan membangun kecerdasan emosional dan keterikatan aman (secure attachment) antara orangtua dan anak.
Inti dari metode ini adalah kemampuan untuk terhubung dengan dunia emosional anak, terutama di saat mereka sedang bersedih, melalui interaksi yang ringan dan menghibur. Anas bin Malik رضي الله عنه menceritakan interaksi Nabi ﷺ dengan adiknya, Abu ‘Umair, yang sedang berduka karena burung peliharaannya yang bernama Nughair telah mati. Ketika bertemu dengannya, Rasulullah ﷺ menyapanya dengan candaan lembut:
“Wahai Abu ‘Umair, apa yang telah dilakukan oleh Nughair?”
Aplikasi Kontemporer
Sapaan Nabi ﷺ yang terkesan ringan ini menunjukkan empati yang mendalam. Beliau tidak menganggap remeh kesedihan seorang anak atas kematian seekor burung kecil. Pelajarannya bagi orangtua adalah untuk selalu memvalidasi perasaan anak, tidak peduli seberapa sepele penyebabnya di mata orang dewasa. Gunakan humor yang lembut untuk menghibur dan terhubung dengan mereka. Tindakan ini mengajarkan anak bahwa perasaan mereka penting dan orangtua mereka adalah tempat berlindung yang aman secara emosional.
Metode 4: Memberikan Hadiah untuk Memotivasi
Pemberian hadiah, dalam psikologi anak, berfungsi sebagai bentuk penguatan positif yang efektif. Hadiah membuat anak merasa istimewa, dihargai, dan menciptakan kenangan indah yang terasosiasi dengan figur pemberi. Prinsip metode ini adalah menggunakan hadiah-hadiah kecil yang penuh perhatian untuk menunjukkan kasih sayang dan mendatangkan kegembiraan.
Praktik ini dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ ketika beliau menerima buah hasil panen pertama (bakurah). Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما meriwayatkan bahwa setelah berdoa untuk keberkahan buah tersebut, beliau akan memberikannya kepada anak-anak termuda yang ada di sekitarnya:
“Ya Allah, sebagaimana Engkau perlihatkan kepadaku awalnya, maka perlihatkan kepadaku yang akhirnya.” Kemudian beliau memberikan kepada anak-anak yang berada disekitar beliau.”
Aplikasi Kontemporer
Tindakan Nabi ﷺ bukan sekadar memberikan buah, tetapi mengubahnya menjadi momen perayaan kecil yang penuh berkah melalui doa. Orangtua dapat mengadopsi semangat ini dengan memberikan hadiah-hadiah kecil sebagai bentuk apresiasi spontan, bukan hanya sebagai imbalan atas pencapaian tertentu. Sebuah buku cerita baru, stiker, atau bahkan pujian yang tulus dapat menjadi “hadiah” yang memotivasi anak untuk terus berbuat baik dan merasa dicintai.
Metode 5: Memerintahkan dan Membiasakan Shalat
Shalat adalah tiang agama dan pilar utama dalam kehidupan seorang Muslim. Menanamkan kebiasaan shalat sejak dini adalah kewajiban strategis bagi setiap orangtua untuk memastikan fondasi keislaman anak terbangun dengan kokoh. Metode profetik dalam hal ini menggunakan pendekatan bertahap yang berbasis usia, menggabungkan instruksi, pembiasaan, dan disiplin yang terukur. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Perintahkanlah anak-anak kalian (untuk melaksanakan) shalat ketika telah berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka (untuk melaksanakan shalat) setelah mencapai usia sepuluh tahun (jika mereka enggan)… serta pisahkanlah tempat tidur mereka.”
Aplikasi Kontemporer
Hadits ini menguraikan tiga fase penting:
- Fase Perintah dan Pembiasaan (Usia 7 tahun): Pada tahap ini, fokusnya adalah pada instruksi yang konsisten, ajakan yang lembut, dan keteladanan orangtua.
- Fase Penegakan Disiplin (Usia 10 tahun): Penting untuk memahami bahwa intervensi disipliner ini disyariatkan hanya setelah tiga tahun penuh masa perintah, pembiasaan, dan keteladanan orangtua. Ini menekankan bahwa disiplin fisik (yang tidak menyakitkan dan tidak melukai) adalah opsi terakhir dalam sebuah strategi habituasi jangka panjang, bukan respons spontan atas kegagalan.
- Fase Pendidikan Adab (Pemisahan Tempat Tidur): Ini adalah langkah proaktif untuk menanamkan rasa malu dan menjaga adab pergaulan seiring dengan perkembangan usia anak menuju baligh.
Metode 6: Menjaga Keamanan Anak di Waktu Petang
Pola asuh yang bijaksana mencakup tindakan proaktif untuk menjaga keselamatan anak, baik dari bahaya fisik maupun spiritual yang tidak terlihat. Islam mengajarkan bahwa ada waktu-waktu tertentu yang menuntut kewaspadaan ekstra. Prinsip utamanya adalah melindungi anak-anak dengan menahan mereka agar tetap berada di dalam rumah pada waktu petang, ketika para setan mulai berkeliaran. Jabir bin ‘Abdillah رضي الله عنه meriwayatkan sabda Rasulullah ﷺ:
“Jika malam mulai datang atau (ketika) petang, maka tahanlah anak-anak kalian (di rumah). Kerena saat itu setan sedang berkeliaran.”
Aplikasi Kontemporer
Dalam konteks modern, ajaran ini dapat diterjemahkan menjadi pentingnya menetapkan jam malam yang jelas bagi anak-anak. Menjadikan rumah sebagai pusat aktivitas di waktu petang tidak hanya selaras dengan hikmah spiritual dari hadits ini, tetapi juga memiliki manfaat praktis yang signifikan. Ini melindungi anak dari berbagai bahaya fisik yang lebih rentan terjadi setelah gelap, seperti kejahatan atau kecelakaan, sekaligus mendorong terciptanya waktu berkualitas bersama keluarga (family time).
Metode 7: Menggunakan Pertanyaan untuk Memicu Pemikiran
Metode bertanya atau dialog adalah salah satu teknik pedagogis paling efektif yang digunakan oleh Rasulullah ﷺ. Pendekatan ini menjadikan ilmu lebih meresap, meningkatkan fokus pendengar, dan menciptakan suasana belajar yang interaktif. Prinsipnya adalah melibatkan kecerdasan anak secara aktif dengan mengajukan pertanyaan, alih-alih hanya menyajikan fakta secara pasif.
Hal ini terlihat dalam sebuah majelis ilmu, di mana Nabi ﷺ bertanya kepada para sahabat:
“Sesungguhnya di antara pepohonan ada pohon yang daunnya tidak gugur, itulah perumpamaan seorang Muslim. Beritahukanlah kepadaku (pohon) apakah itu?”
Dalam riwayat tersebut, ‘Abdullah bin ‘Umar رضي الله عنهما yang saat itu masih muda, berpikir bahwa jawabannya adalah “pohon kurma,” namun ia malu untuk mengungkapkannya di hadapan para sahabat senior.
Aplikasi Kontemporer
Metode ini secara fundamental berbeda dari sekadar transfer informasi atau hafalan. Rasulullah ﷺ tidak mengajarkan apa yang harus dipikirkan, melainkan bagaimana cara berpikir. Ini menumbuhkan kerendahan hati intelektual—seperti yang ditunjukkan oleh rasa malu Ibnu ‘Umar—dan memvalidasi proses penyelidikan itu sendiri. Orangtua dan pendidik dapat secara aktif menerapkan metode ini dengan mengajukan pertanyaan pancingan seperti, “Menurutmu kenapa bisa begitu?” untuk mengubah proses belajar menjadi sebuah petualangan penemuan bersama.
Metode 8: Melatih Amanah dan Menjaga Rahasia
Dari membangun sifat-sifat positif, kerangka pedagogis nabawi beralih pada seni merespons kesalahan—sebuah aspek krusial dalam membentuk jiwa yang tangguh. Amanah (dapat dipercaya) adalah salah satu sifat paling mulia dalam Islam dan merupakan pilar utama karakter seorang Muslim. Melatih sifat ini sejak dini sangat penting untuk membangun integritas pribadi anak. Prinsipnya adalah memberikan kepercayaan dan tanggung jawab kepada anak, termasuk dalam menjaga rahasia, untuk membangun rasa integritas dan keandalan.
Contoh luar biasa dari ini adalah kisah Anas bin Malik رضي الله عنه saat masih kanak-kanak. Rasulullah ﷺ mengutusnya untuk suatu keperluan, yang membuatnya terlambat pulang. Ketika ibunya bertanya tentang keperluan tersebut, Anas menjawab, “(Keperluan tersebut) rahasia.” Ibunya pun menimpali, “(Kalau begitu) janganlah engkau ceritakan (tentang) rahasia Rasulullah ﷺ kepada seorang pun.”
Aplikasi Kontemporer
Kisah ini menunjukkan betapa besar kepercayaan yang diletakkan oleh Nabi ﷺ pada seorang anak kecil. Orangtua dapat menumbuhkan sifat amanah dengan memberikan tanggung jawab yang sesuai dengan usia anak, misalnya tugas rumah tangga, atau mempercayakan “rahasia” kecil seperti rencana kejutan ulang tahun. Puji dan hargai integritas mereka ketika mereka berhasil menjaga kepercayaan tersebut.
Metode 9: Tidak Selalu Menyalahkan Atas Kesalahan
Menciptakan lingkungan yang aman secara psikologis adalah kunci bagi pertumbuhan anak yang sehat. Kritik yang terus-menerus akan mematikan inisiatif, sementara pendekatan yang pemaaf akan mendorong anak untuk terus belajar. Prinsip utama metode ini adalah menunjukkan kesabaran yang luar biasa dan menahan diri dari menyalahkan setiap kekurangan anak. Kesaksian paling kuat datang dari Anas bin Malik رضي الله عنه, yang melayani Nabi ﷺ selama sepuluh tahun:
“Aku telah membantu Rasulullah ﷺ selama sepuluh tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah sama sekali mengatakan kepadaku dan terhadap sesuatu, ‘Mengapa engkau melakukan ini? Mengapa engkau tidak melakukan itu?’”
Aplikasi Kontemporer
Kebijaksanaan di balik pendekatan ini adalah fokus pada proses perkembangan anak secara keseluruhan, bukan pada kesempurnaan di setiap tindakan. Orangtua dapat mengadopsi pola pikir seorang pelatih (coach): ketika anak melakukan kesalahan, hindari menyalahkan masa lalu (“Kenapa kamu lakukan itu?”). Sebaliknya, fokuslah pada perbaikan di masa depan (“Lain kali, ayo kita coba dengan cara ini!”). Pendekatan ini membangun kepercayaan diri anak dan memperkuat hubungan orangtua-anak.
Metode 10: Tidak Mempermalukan Anak di Depan Umum
Berdasarkan fondasi keamanan psikologis, metode berikutnya membahas kebutuhan untuk memperbaiki perilaku tanpa merusak martabat anak. Menjaga martabat dan harga diri (‘izzah) seorang anak adalah komponen krusial dalam pendidikan. Mempermalukan anak di depan umum dapat menyebabkan luka emosional yang dalam dan meretakkan hubungan kepercayaan dengan orangtua. Prinsip metode ini adalah melakukan koreksi secara pribadi dan lembut.
Sebuah insiden yang melibatkan Anas bin Malik رضي الله عنه menjadi contoh paripurna. Ketika diutus untuk sebuah keperluan, beliau berkisah, “Aku berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan pergi.’ Namun di dalam hatiku aku ingin pergi karena yang menyuruhkan adalah Nabiyullah ﷺ.” Anas kemudian malah ikut bermain dengan anak-anak lain di pasar. Ketika Rasulullah ﷺ menemukannya, respons beliau adalah puncak kecerdasan edukatif. Beliau mendekatinya dari belakang, memegang tengkuknya, lalu tersenyum dan bertanya dengan lembut:
“Wahai Unais, apakah engkau telah pergi ke tempat yang aku perintahkan?”
Aplikasi Kontemporer
Respons Nabi ﷺ adalah sebuah pelajaran unggul dalam kecerdasan emosional: sentuhan fisik yang menenangkan, senyuman yang hangat, panggilan sayang (“Unais,” bentuk kecil dari Anas), dan sebuah pengingat lembut, bukan bentakan di depan teman-temannya. Pelajaran bagi orangtua sangat jelas: selalu tangani isu-isu perilaku yang sensitif secara empat mata. Lindungi harga diri anak Anda, dan mereka akan lebih mudah menerima nasihat Anda.
Metode 11: Melarang Tegas dari Melakukan Keharaman
Meskipun kelembutan mendominasi interaksi korektif, ada situasi di mana kerangka Tarbiyah Nabawiyah menuntut intervensi yang tegas dan tanpa kompromi: ketika seorang anak bersentuhan dengan sesuatu yang jelas-jelas haram. Menetapkan batasan yang tidak dapat ditawar terkait hal-hal terlarang sangat penting untuk membangun kompas moral anak.
Prinsip metode ini adalah intervensi yang segera, jelas, dan tegas. Hal ini dicontohkan ketika Al-Hasan bin ‘Ali رضي الله عنهما, yang saat itu masih balita, memasukkan sebiji kurma dari tumpukan sedekah ke dalam mulutnya. Respon Nabi ﷺ seketika dan tegas:
“Cih, cih, keluarkan. Bukankah engkau tahu bahwa kita tidak boleh memakan sedekah?”
Aplikasi Kontemporer
Perhatikan perbedaan antara respons tegas ini dengan pendekatan lembut pada metode sebelumnya. Ketika menyangkut hal yang jelas haram, tidak ada ruang untuk ambiguitas. Namun, tegas tidak berarti kasar. Seperti yang dicontohkan Nabi ﷺ, ketegasan itu harus disertai dengan edukasi—memberikan alasan di balik larangan tersebut. Ini mengajarkan anak untuk taat berdasarkan pemahaman, bukan sekadar ketakutan.
Metode 12: Mengajak Berdiskusi untuk Membimbing Pemahaman
Seiring dengan kematangan anak, terutama saat memasuki usia remaja, metode pendidikan harus beralih dari instruksi menjadi diskusi. Pendekatan ini menghargai perkembangan intelektual mereka dan membimbing mereka untuk sampai pada kesimpulan yang benar melalui logika dan empati mereka sendiri. Prinsip utamanya adalah menggunakan dialog yang logis untuk mengatasi topik-topik sensitif.
Contoh paling fenomenal dari metode ini adalah ketika seorang pemuda mendatangi Nabi ﷺ dan meminta izin berzina. Seketika, “Orang-orang pun mendatanginya dan mencelanya. Mereka mengatakan, ‘Diam, diam.’” Namun, Rasulullah ﷺ justru menepis reaksi umum tersebut dan mengajaknya berdiskusi. Beliau ﷺ bertanya secara sistematis:
“Relakah engkau jika ibumu (dizinai orang lain)?” Pemuda itu menjawab tidak. Nabi ﷺ melanjutkan, “Relakah engkau jika putrimu?… saudarimu?… bibimu?” Pada setiap pertanyaan, pemuda itu memberikan jawaban yang sama. Setelah dialog itu, Nabi ﷺ meletakkan tangan di dada pemuda itu dan mendoakannya.
Aplikasi Kontemporer
Pendekatan brilian ini dapat disebut sebagai pembimbingan melalui konsekuensi empatik. Rasulullah ﷺ tidak menghardik atau menceramahi tentang dosa; beliau membuat pemuda itu merasakan sendiri dampak emosional dari perbuatannya dari sudut pandang orang lain. Orangtua harus menggunakan teknik ini ketika berhadapan dengan isu-isu sulit pada remaja. Daripada sekadar melarang, ajak mereka berpikir tentang konsekuensinya, pancing empati mereka, dan bimbing mereka mengambil keputusan yang benar atas dasar kesadaran.
***
Kekuatan Doa Orangtua sebagai Penunjang Kesuksesan
Setelah menelusuri dua belas metode dalam kerangka Tarbiyah Nabawiyah, ada elemen fundamental yang menjadi ruh dan energi bagi semua ikhtiar tersebut: doa orangtua. Tanpa sandaran vertikal kepada Allah (tawakkul) dan kekuatan doa, teknik pedagogis secanggih apa pun akan tetap menjadi kerangka tanpa jiwa. Pilar penunjang keberhasilan pendidikan anak yang paling utama adalah doa tulus dari kedua orangtuanya.
Kekuatan doa orangtua bukanlah doa biasa; ia memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah dan tergolong sebagai doa yang mustajab, atau pasti dikabulkan. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tiga doa yang mustajab, yang tidak ada keraguan padanya; (1) doa orang yang terzhalimi, (2) doa orang yang sedang bepergian, dan (3) doa orangtua kepada anaknya.”
Implikasi dari hadits ini sangat besar. Ia memberikan kekuatan dan harapan kepada setiap orangtua, mengingatkan mereka bahwa alat paling ampuh yang mereka miliki dalam mendidik anak adalah hubungan langsung mereka dengan Allah melalui doa. Jangan pernah meremehkan untaian permohonan yang dipanjatkan untuk kesalehan putra-putri kita.
Maka, marilah kita senantiasa membasahi lisan kita dengan doa, memohon kepada Allah SWT agar menjadikan anak-anak dan keturunan kita generasi yang saleh dan salihah, yang menjadi penyejuk pandangan mata, sebagaimana doa yang termaktub dalam Al-Qur’an:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
Sungguh, segala puji bagi Allah; Rabb Semesta Alam.[]
0 Comments